Asep Rizal Muldiansyah
2IA08
51412202
…NEW MEDIA…
Kata "media" itu berasal
dari bahasa latin yang artinya perantara sebuah pesan dengan penerima pesan.
Contoh dari media seperti: Komputer. Komputer dapat dikatakan media
pembelajaran jika membawa pesan - pesan dalam rangka mencapai tujuanpembelajaran.
Dan apa yang dimaksud dengan "new media". Sebenarnya sulit untuk mendefinisikan new media disebabkan karena sulitnya menjelaskan apa variabel dari “new” itu. Dan juga karena bisa dilihat dari segi waktu, manfaat, produksi, dan distribusinya.
Mengatakan new media, bisa berarti berdasarkan "waktu" . Jadi semakin baru, semakin modern, semakin New Media. Lalu bisa juga dilihat dari sisi "manfaat", jadi semakin heboh di kalangan masyarakat, semakin mengubah culture / budaya, makin newmedia.
Banyak yang beranggapan bahwa komputer itu pasti new media, belum tentu komputer adalah new media karena itu membatasi definisi "new media" itu sendiri, karena komputer hanya sebuah mesin, tidak bisa menjadi pengukur media itu adalah new media atau bukan.
Bila dilihat dari sisi "produksi", jadi jika diproduksi dengan teknologi terbaru itu menjadi new media. Berarti dengan definisi ini koran cetak juga dapat dibilang sebagai new media, karena koran di produksi dengan komputer dan design dengan software - software modern. Benarkah koran adalah new media ?
Sekarang yang terakhir jika dilihat dari sisi "distribusi", jadi bila hasilnya baru (berupa digital misalnya) itu baru new media. Dan jika dilihat dari sisi ini berarti koran cetak termasuk sebagai old media dong. Kalau koran online baru di bilang sebagai new media.
Sangat sulit sekali menjelaskan apa itu new media, karena new media itu dapat dilihat dari segi waktu, manfaat, produksi, dan distribusinya. Itulah yang membuat sangat sulit untuk mendefinisikan apa itu new media?
Tapi kalau menurut saya New Media adalah media yang dibuat dengan kode digital, yaitu memakai representasi matematis. Contohnya: Dengan menggunakan alogaritma yang tepat, kita dapat dengan otomatis membuang “noise” dari foto, meningkatkan kontras warna, mencari sisi-sisi dari bentuk, atau mengubah proporsi dan ukuran gambar, singkatnya, media menjadi mudah untuk diprogramkan.
New Media adalah media yang didalamnya terdiri dari gabungan berbagai elemen. Itu artinya terdapat konvergensi media di dalamnya, dimana beberapa media dijadikan satu, itu baru disebut new media. Contohnya : Seperti QuickTime movies, suara yang dimasukkan secara terpisah dan berjalan selama film berjalan. Karena tiap-tiap elemen memiliki independensi masing-masing, maka masing-masing dapat dimodifikasi / di-edit kapanpun tanpa harus mengubah film itu sendiri.
New Media adalah media dapat mengoperasikan sifat otomatis dalam berbagai perangkatnya. Contohnya: Program edit gambar seperti Photoshop dapat dengan otomatis memperbaiki gambar hasil scan, membersihkan gambar dan meningkatkan kontras gambar.
Terakhir kesimpulannya: New media adalah media yang “cerdas seperti manusia” karena terus berkembang seturut perkembangan jaman
Dan apa yang dimaksud dengan "new media". Sebenarnya sulit untuk mendefinisikan new media disebabkan karena sulitnya menjelaskan apa variabel dari “new” itu. Dan juga karena bisa dilihat dari segi waktu, manfaat, produksi, dan distribusinya.
Mengatakan new media, bisa berarti berdasarkan "waktu" . Jadi semakin baru, semakin modern, semakin New Media. Lalu bisa juga dilihat dari sisi "manfaat", jadi semakin heboh di kalangan masyarakat, semakin mengubah culture / budaya, makin newmedia.
Banyak yang beranggapan bahwa komputer itu pasti new media, belum tentu komputer adalah new media karena itu membatasi definisi "new media" itu sendiri, karena komputer hanya sebuah mesin, tidak bisa menjadi pengukur media itu adalah new media atau bukan.
Bila dilihat dari sisi "produksi", jadi jika diproduksi dengan teknologi terbaru itu menjadi new media. Berarti dengan definisi ini koran cetak juga dapat dibilang sebagai new media, karena koran di produksi dengan komputer dan design dengan software - software modern. Benarkah koran adalah new media ?
Sekarang yang terakhir jika dilihat dari sisi "distribusi", jadi bila hasilnya baru (berupa digital misalnya) itu baru new media. Dan jika dilihat dari sisi ini berarti koran cetak termasuk sebagai old media dong. Kalau koran online baru di bilang sebagai new media.
Sangat sulit sekali menjelaskan apa itu new media, karena new media itu dapat dilihat dari segi waktu, manfaat, produksi, dan distribusinya. Itulah yang membuat sangat sulit untuk mendefinisikan apa itu new media?
Tapi kalau menurut saya New Media adalah media yang dibuat dengan kode digital, yaitu memakai representasi matematis. Contohnya: Dengan menggunakan alogaritma yang tepat, kita dapat dengan otomatis membuang “noise” dari foto, meningkatkan kontras warna, mencari sisi-sisi dari bentuk, atau mengubah proporsi dan ukuran gambar, singkatnya, media menjadi mudah untuk diprogramkan.
New Media adalah media yang didalamnya terdiri dari gabungan berbagai elemen. Itu artinya terdapat konvergensi media di dalamnya, dimana beberapa media dijadikan satu, itu baru disebut new media. Contohnya : Seperti QuickTime movies, suara yang dimasukkan secara terpisah dan berjalan selama film berjalan. Karena tiap-tiap elemen memiliki independensi masing-masing, maka masing-masing dapat dimodifikasi / di-edit kapanpun tanpa harus mengubah film itu sendiri.
New Media adalah media dapat mengoperasikan sifat otomatis dalam berbagai perangkatnya. Contohnya: Program edit gambar seperti Photoshop dapat dengan otomatis memperbaiki gambar hasil scan, membersihkan gambar dan meningkatkan kontras gambar.
Terakhir kesimpulannya: New media adalah media yang “cerdas seperti manusia” karena terus berkembang seturut perkembangan jaman
…ADVERTISING…
Advertising adalah salah satu strategi perusahaan dalam
mengembangkan produknya dimana unsur kreatif sangat penting untuk men-deliver
pesannya.
Keberhasilan
advertising adalah menciptakan attention untuk meningkatkan awareness dan
membuat konsumen untuk mau mencoba produknya sehingga produk yang dijual akan
meningkat penjualannya.
Advertising Effectiveness sendiri adalah merupakan pengukuran
yang memperlihatkan kontribusi komunikasi iklan (khususnya TV) terhadap level
cognitive (Awareness) kepada Affective (Kesukaan + Minat beli) sampai ke
Connative (Usage) terakhir sampai ketingkat loyalitas konsumen.
Pengukuran Advertising Effectiveness sangat diperlukan Untuk
melihat efektifitas dari kampanye komunikasi yang telah dilakukan, sehingga
kedepannya kita bisa menentukan strategi pemasaran yang tepat untuk menjadikan
produk kita bisa berkompetisi dipasar.
Informasi pasar yang
didapat dari survei kepuasan palanggan ini digunakan untuk sebagai sarana
melihat tingkat kepuasan konsumen dan melihat efektifitas kegiatan kampanye
promosi dan pemasaran yang telah dilakukan sehingga kedepannya untuk merumuskan
strategi-strategi pemasaran yang efektif untuk periode berikutnya

Kalau soal harga, remaja
tidak terlalu sensitif seperti layaknya kaum wanita dewasa atau ibu. Sebab,
mereka belum merasakan susahnya mencari uang dan masih bergantung sepenuhnya
kepada orangtua. Seandainya mereka sangat suka kepada suatu produk dan uang
sakunya tidak mencukupi, mereka akan menggunakan 1001 cara membujuk orangtuanya
untuk membelikan produk tersebut.
Siapakah trendsetter mereka? Hanya orang-orang tertentu yang
sangat menonjol di kelompok yang bisa dijadikan panutan oleh teman-temannya.
Menilik sifat mereka yang masih sangat labil, mereka cenderung mencari sosok
dari luar sebagai panutan, termasuk untuk tren yang sedang “in“ saat itu.
Seringnya, yang menjadi panutan ABG adalah artis atau penyanyi band yang sedang
top. Apa pun yang dilakukan atau dipakai oleh sang idola, akan mereka ikuti.
Karena pola mereka mengikuti trendsetter, ABG belum memiliki
loyalitas terhadap brand tertentu. Mereka sangat mudah dipengaruhi lingkungan,
terutama teman. Jika teman berubah dari merek A ke merek B, mereka akan
cenderung mengikuti. Terlebih, perasaan ingin mencoba sesuatu yang baru masih
sangat tinggi, sehingga brand switching paling mudah terjadi di kategori
remaja.
Maka, unsur yang harus diperhatikan pada saat menggarap pasar
ABG adalah tren yang sedang “in“ saat itu. Kemudian, mencermati ritme kehidupan
mereka sejak pagi hari, di sekolah, lingkungan pergaulan, keluarga dan
sebagainya. Lalu, tampilan komunikasi yang menggunakan grouping of buddies akan
sangat membantu karena 99% dari remaja memang cenderung berkelompok. Ditambah
lagi, menggunakan figur idola remaja saat itu akan bisa menjadi shortcut yang
sangat efektif.
Mereka cenderung mengedepankan emotional benefit. Apa yang
dianggap tren saat itu, dianggap “cool” oleh teman-temannya, apa pun yang
dipakai oleh para idola mereka, pasti akan dibeli atau dicoba tanpa
mengindahkan functional benefit. Kadang juga tanpa mengindahkan faktor value
for money (kontennya). Melihat sifatnya yang sangat unstable, sebenarnya segmen
ini merupakan sasaran empuk para marketer yang jeli melihat loop holes
produk-produk yang memang ditujukan untuk kaum remaja. Apalagi jika
pendekatannya tepat, menggunakan bahasa gaul mereka, dan menggunakan figur
idola mereka.
Sedangkan komunikasi below the line yang tepat adalah yang
bersifat mengumpulkan massa. Karena di usia mereka, kebutuhan untuk tampil,
untuk dilihat dan melihat, untuk diakui keberadaannya, masih sangat tinggi.
Pagelaran musik, lomba kecantikan atau event yang sifatnya massal akan efektif
dan pasti mendapat tanggapan positif. Community marketing masih belum terlalu
berjalan karena masih sangat terbatas sifatnya. Kumpulan atau kelompok yang
mereka ikuti masih sebatas sekolah dan pergaulan sehari-hari dan biasanya
sifatnya belum tetap, masih akan cepat berubah. Ada beberapa strategi kunci
para marketer untuk sukses di segmen ini. Pertama, product differentiation,
yaitu kelebihan signifikan yang dimiliki oleh produk tersebut. Apakah akan
cukup menarik minat remaja untuk mencoba atau membeli produk ini (trial
purchase).
Kedua, competition. Berkaitan dengan product differentiation di
atas, kita juga harus melihat kompetisi yang ada di pasar. Jangan hanya berbeda
dari segi produk saja, tetapi pendekatan yang dilakukan ke konsumen juga harus
berbeda. Jangan pernah menjadi “me too“ atau follower dalam segalanya.
Lakukanlah inovasi-inovasi dalam komunikasi. Karena remaja memang selalu
tertarik dengan hal-hal baru, yang aneh, nyeleneh dan yang lain dari yang lain,
walaupun tetap harus membumi.
Ketiga, cost and risk. Menciptakan produk yang berbeda dengan
komunikasi inovatif memang butuh biaya yang tidak sedikit. Tetapi, jangan
mempertaruhkan investasi dengan menetapkan harga terlalu tinggi demi mencapai
dua poin di atas. Walaupun, kaum ABG tidak terlalu sensitif terhadap harga,
tetapi mereka juga punya batasan-batasan tertentu karena mereka masih
sepenuhnya tergantung pada uang saku yang diberikan orangtuanya. Jadi,
perhitungan yang matang antara cost and risk tetap menjadi prioritas utama.
Keempat, creating a perceive value. Kaum ABG belum mempunyai
satu ketegasan sikap dalam hidup. Mereka masih mencari jati diri, sehingga
sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan di sekelilingnya. Jadi, jika berhasil
menciptakan sebuah perceive value dari produk yang kita pasarkan (entah itu
melalui packaging, komunikasi iklan, ambassador/bintang iklan), akan sangat
membantu untuk action to buy.
Terakhir, SWOT Analysis masih merupakan basic dari perhitungan untuk memasarkan sebuah produk.
Terakhir, SWOT Analysis masih merupakan basic dari perhitungan untuk memasarkan sebuah produk.
Iklan yang disukai oleh konsumen tentunya sangatlah penting.
Setiap pengiklan dan biro iklan yang menangani iklan, pasti berupaya agar
iklannya disukai. Iklan yang disukai, biasanya akan sangat membantu tingkat
awareness dari merek tersebut.
Iklan yang disukai juga sangat penting dalam membentuk perasaan
suka terhadap merek tersebut. Bagaimana menjelaskan bahwa iklan yang disukai
dapat mempengaruhi tingkat kesukaan konsumen terhadap merek tersebut ? Banyak
teori yang dapat menjelaskan hal ini. Salah satunya adalah teori Classical
Conditioning yang dikembangkan oleh Pavlov. Teori ini sederhana dan dikonsepkan
berdasarkan suatu eksperimen sederhana pula.
Kira-kira ekperimennya adalah seperti berikut; Ada instrumen atau
alat yang dapat mengeluarkan bunyi, makanan dan seekor kucing yang
lapar. Setiap kali alat berbunyi, kemudian diikuti dengan pemberian
makanan kepada kucing tersebut. Karena lapar, kucing akan mengeluarkan air liur
melihat makanan yang diberikan kepadanya. Hal ini diulang-ulang terus menerus.
Alat dibunyikan, makanan diberikan, kucing mengeluarkan air liur sebagai respon
terhadap stimulus dan kemudian makan.
Setelah berkali-kali, kucing akan belajar bahwa setiap alat
dibunyikan, maka makanan pasti akan diberikan. Oleh karena itu, saat alat
dibunyikan, maka kucing tersebut sudah memberikan respon dan keluar air liurnya
sebelum makanan diberikan.
Iklan dapat diibaratkan dengan makanan dan alat instrumen adalah
merek suatu produk. Dalam hal ini, kucing diperankan oleh pemirsa. Saat pertama
kali melihat suatu iklan yang disukai, pemirsa akan memberikan reaksi dalam
bentuk perasaan suka dan sikap yang positif, sama seperti kucing yang
memberikan respon dalam bentuk air liur. Lama kelamaan, karena suka terhadap
iklan tersebut maka pemirsa akan timbul rasa suka terhadap merek tersebut.
Karena itu,sangatlah penting untuk mempunyai iklan yang disukai oleh konsumen.
Hasil survei Omnibus Dwisapta 2007 menunjukan bahwa iklan
Sampoerna A Mild, Lux Coca Cola, Extra Joss, Mie Sedap, La Light, Dancow,
Gudang Garam, Indomie, adalah 10 iklan yang paling disukai oleh pemirsa
Indonesia.
Bila melihat hasil survei tersebut, terlihat ada beberapa
persamaan yang dimiliki oleh iklan-iklan tersebut. Iklan-iklan tersebut,
umumnya mempunyai kreativitas yang baik, unik atau relatif berbeda dengan
iklan-iklan pada umumnya, menggunakan humor atau hal-hal yang lucu dan sebagian
menggunakan artis yang terkenal atau sebagian menggunakan musik.
Pertama, keunikan dari hasil suatu kreativitas jelas sangat
penting. Setiap hari, pemirsa televisi dibombardir dengan ratusan iklan.
Iklan-iklan yang tidak memiliki keunikan, sangatlah sulit untuk menancap dalam
benak konsumen dan mempunyai peluang kecil untuk disukai.
Kedua, pengaruh talen
atau artis terkenal memang luar biasa. Dapat dikatakan, iklan-iklan yang
disukai tersebut, 90% menggunakan artis yang sudah sangat terkenal dan familiar
buat konsumen Indonesia.
Ketiga, terlihat ada hubungan yang erat antara iklan yang disukai
dan iklan yang dianggap lucu. Sama seperti konsumen di belahan dunia yang lain,
orang Indonesia juga senang dengan iklan yang lucu dan penuh dengan humor. Ini
memberikan pesan kepada para pengiklan agar tidak terlalu memaksakan memberikan
informasi yang terlalu banyak dan menjadi iklan yang membosankan.
Keempat, yang terlihat nyata adalah bahwa iklan yang disukai
adalah iklan yang mempunyai frekuensi yang tinggi atau didukung dengan budget
yang tinggi. Tentunya, ini pesan yang tidak menyenangkan buat para produsen
kelas menengah yang tidak mempunyai budget yang besar.
Kelima, Hal ini tidak kalah pentingnya Iklan yang disuka dan bisa menancap dibenak konsumen adalah iklan yang simple dan gampang dicerna, hal ini disesuaikan dengan pola pikir dan gaya hidup orang Indonesia yang masih berbau ketimuran.
Kelima, Hal ini tidak kalah pentingnya Iklan yang disuka dan bisa menancap dibenak konsumen adalah iklan yang simple dan gampang dicerna, hal ini disesuaikan dengan pola pikir dan gaya hidup orang Indonesia yang masih berbau ketimuran.
Akhirnya, iklan yang disukai, biasanya mempengaruhi perilaku
konsumen dalam melakukan pemilihan merek. Sekarang tinggal gimana kita
menyikapinya ? yang jelas Iklan yang creative adalah iklan yang disuka dan bisa
menjual
Tahun 2007 jelas menjadi sejarah tak terlupakan bagi insan
periklanan Indonesia. Setelah sekian lama hanya mentok sebagai penggembira di
ajang kompetisi kreatif iklan tingkat regional dan internasional, kini karya
Indonesia mampu unjuk gigi. Ya, Citra Parivvara (CP) tahun lalu bertajuk
“Survival Change” mampu membuahkan hasil.
Setidaknya, sepanjang tahun 2007 karya kreatif anak bangsa mampu
merebut metal di ajang Asia Pacific Advertising Festival, Cannes Lions dan New York Festival.
Berawal dari karya Indonesia berjudul Floating Hands yang mampu merebut
perak di Asia Pacific Advertising Festival, kejayaan insan kreatif tanah air makin menguak.
Iklan serupa rupanya mampu meraih perunggu di adu kreatif Cannes Lions 2007. Perunggu lain dari Cannes Lions juga mampu
digondol iklan cetak permen karet Big Babol karya Draft FCB: Tak ketinggalan, iklan
layanan masyarakat anti-AIDS karyaRandy Rinaldy juga berhasil menggondol emas di ajang New York Festival.
Jadi, jangan heran kalau hasil CP 2007 ke-21 itu tak boleh mengalami kemunduran. Alias, karya-karya iklan
yang terjaring dalam CP ke-21 itu harus mampu berjaya lagi di ajang festival
tingkat regional maupun internasional. “Oleh karena itu, standard penjurian CP 2007 semakin ditingkatkan
lagi,” ungkap Narga S. Habib, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI).
Tema CP 2007 “Aim Higher”, yang diartikulasikan dalam jargon Only the
Great Prevail dikibarkan. Dewan juri “yang didominasi para juri asing diharapkan mampumenyeleksi sejumlah karya
iklan anak bangsa— yang notabene bakal diadu lagi di festival iklan manca
negara. Ya, dewan juri di bawah pimpinan Chief Creative OfficerTBWA Jepang John Merrifield (kategori utama)
dan Executive Creative Director BBDO Malaysia Ronald Ng (kategori craft), harapan
akbar CP 2007 disandarkan.
Malam anugerah CP 2007 yang digelar pada penghujung November
2007, akhirnya berhasil menentukan jajaran jawaranya. Agency Terbaik
diraih JWT Indonesia;Production House Terbaik direbut 25
Frames; Advertiser Terbaik digondol Prambors Rasisonia dan
Museum Wayang Indonesia.
Masih dalam hajatan akbar para insan kreatif iklan Indonesia
itu, pasangan IswandaMardio dan Dimaz Muktiarto dari Publicis Indonesia dikukuhkan menjadi pasangan Daun
Muda Award. Mereka terpilih mewakili Indonesia di ajang “Young Lotus” Asia
Pacific Adfest, Pattaya, pada tahun 2008.
Bahkan, sejumlah nama biro iklan sukses menggondol beberapa
penghargaan. Sebut saja, PT Hakuhodo Indonesia sukses menggondol 3 bronze di kategori Automotive &Its Related
Products, untuk iklan Nissan berjudul Tough. Di
kategori Candy & Snack,PT Hakuhodo Indonesia juga berhasil menggondol 2 Silver dan 3 Bronze untuk
iklan Lotte Green Gum berjudul bushman 1 dan bushman 2.
Di kategori Non Conventional Medium (Innovative Ad) dan Advertising
on Internet andMobile Phone, PT. Hakuhodo Indonesia kembali berjaya. Ya, iklan Car Insuranceberjudul Ruler mampu memperoleh 2 Silver di kategori Non Conventional Medium.Sementara iklan Nissan
Frontier Navara berjudul Crash Test—yang juga buatan PT Hakuhodo Indonesia
—sukses meraih 3 Bronze.
Hoh Woon Siew, Executive Creative Director PT Hakuhodo Indonesia, yang
juga salah seorang juri CP 2007 menilai bahwa para pemenang hasil penjurian CP 2007 adalahentry-entry yang
memang layak berkompetisi di sejumlah festival kreatif periklanan
mancanegara.
Sementara itu, di mata John Merrifield, Ketua Juri CP2007,
periklanan di Indonesia sangat potensial untuk menghasilkan karya-karya yang
luar biasa. Lantaran, Indonesia memiliki keragaman budaya lokal serta
kemajemukan penduduk yang tidak didapat di negara lain. Menurutnya, ide kreatif
bisa datang dari mana saja, bahkan bisa dimulai dari melakukan apa yang disukai. “Tak
ada yang bisa didapat jika kitamembuat iklan karena punya niat menang award. Akan lebih
baik, jika bikin iklan yang dapat memberi impact yang
dahsyat,” ujar John, saat menjadi pembicara di seminar hari kedua CP 2007.
Makin semrawutnya medium konvensional sebagai sarana beriklan
memicu para pengelola biro iklan dan pemasar mencari alternatif lain sebagai
medium beriklan agar pesannya menjadi efektif dan efisien. Sejumlah pengiklan
di kota-kota besar telah memanfaatkan ambient media untuk
memecah perhatian konsumen. Pasalnya, tujuan utama dari ambient adalah
bagaimana konsumen memperoleh a memorable experience dari
kegiatan komunikasi yang dirancang. Tentunya di luar medium konvensional.
Sehingga kegiatan ini banyak ditemui pada kegiatan below-the-line yang
terintegrasi dengan media. Ambient juga bisa ditemui di dalam
ruangan seperti mal, restoran, toilet dan media advertising. Pemasar
yang memanfaatkan medium ini masih di dominasi oleh pemasar besar yang
menjual produk fast moving consumer goods(FMCG),
telekomunikasi, perbankan, rokok dan otomotif.
Di sudut-sudut Jakarta, tepatnya di sekitar Jalan Sudirman hingga
Bundaran Hotel Indonesia, tampak bentuk-bentuk unik yang mampu menyedot
perhatian orang yang hilir mudik di jalan utama itu. Rata-rata ambient berukuran
besar. Ini membuktikan bahwa ambient media sudah mulai banyak
dipilih oleh para pemasar.
BAKSO KRIKIL

Mungkin karena bentuknya yang kecil-kecil maka
bakso ini dinamakan bakso kerikil. Tak jadi soal yang penting bakso ini
memiliki rasa yang nikmat dan pas untuk disantap saat hujan seperti sekarang
ini.
Bahan-bahan/bumbu-bumbu:
500 gram daging sengkel segar, dipotong-potong kecil
4 sendok teh garam kasar
1 butir telur
250 gram es serut
1/2 sendok teh penyedap rasa
3 siung bawang putih, dihaluskan
1/2 sendok teh merica bubuk
1 sendok makan bawang putih goreng
1 sendok makan bawang merah goreng
125 gram tepung sagu aren
100 gram urat sapi, dicincang
Pelengkap:
1 resep kuah bakso sapi
Bahan Kuah:
1.500 gram tulang sapi
5.000 ml air
4 tangkai seledri, diikat
4 batang daun seledri
10 siung bawang putih, digoreng utuh, dimemarkan
7 sendok teh garam
1 sendok teh merica bubuk
1 sendok teh gula pasir
1 sendok teh penyedap rasa
50 gram bawang merah goreng
1 resep sambal bakso sapi
Bahan Sambal:
5 buah cabai merah keriting, direbus
20 buah cabai rawit merah, direbus
250 ml air
1/2 sendok teh garam
10 buah tahu pong, digoreng
150 gram bihun, diseduh
150 gram mi telur, diseduh
9 tangkai seledri, diiris halus untuk taburan
4 sendok makan bawang merah goreng untuk taburan
Cara membuat:
1. Bakso, masukkan daging
sapi dan garam dalam food processor. Giling sampai halus.
2. Masukkan telur, es serut,
penyedap rasa, bawang putih, merica bubuk, bawang putih goreng, dan bawang
merah goreng. Giling sampai lembut.
3. Tambahkan tepung sagu.
Giling rata sampai lembut dan kalis. Masukkan urat sapi. Aduk rata.
4. Ambil adonan. Bentuk
bulat kecil-kecil dengan tangan. Masukkan dalam air hangat. Bila bakso sudah
mulai penuh. Rebus sampai matang. Tiriskan.
5. Sajikan bersama pelengkap
dan kuah.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar